Melatih Regulasi Emosi Anak Dimulai dari Diri Sendiri

Hari ini suamiku berangkat kerja dan tidak bisa pulang selama 2 pekan ke depan. Tiap baru ditinggal, rasanya ada yang kosong di hati. Kosong sekaligus sesak. Entahlah, aku pikir mungkin aku tidak terbiasa jika tidak ada suamiku di rumah. Ditambah, aku tidak punya teman ngobrol dan tukar pikiran seperti ketika ada suamiku.

Pagi ini, tiba-tiba saja aku ngode curhat ke anak pertamaku bahwa aku sedih karena ditinggal Ayahnya. Tanpa aku sangka, anak usia hampir 6 tahun ini bisa juga ya jadi konsultan rumah tangga. Hahaha. Katanya, "berarti Mama cinta sama Ayah."

Aku tanya, "terus harus gimana?" 

Katanya, "berarti Mama harus ngelakuin yang Ayah suka. Bikinin kue ulang tahun, kasih kado. Gitu."

Lha? Meskipun ini agaknya lebih memproyeksikan dirinya sendiri, tapi aku cukup terhibur dengan jawabannya 🤣

***

Siang ini juga aku nggak enak badan. Sepertinya ada saluran ASI yang tersumbat, membuat PD terasa nyeri sekali saat tersentuh. Sudah aku susui, masih sakit. Sudah aku kompres hangat, masih sakit. Makin lama makin sakit, sampai aku tak tahan dan harus minum paracetamol untuk meredakan sakitnya.

Di tengah kondisi tubuh yang sedang tidak fit, bayiku hari ini ingin nempel terus. Tidur tidak nyenyak dan inginnya tidur didekap. Baiklah, kenyamanannya adalah nomor satu bagiku. Sebab jika dia menangis teu puguh, tentu saja akan lebih membuatku pening. 

Dalam kondisi menahan sakit itu, dan harus tetap mengurus rumah, bayi dan kakak-kakaknya, si kakak merengek minta makan--dan ingin makan sekarang juga. Aku yang sedari tadi merapikan baju tidak kelar-kelar ini, akhirnya pecah dalam kelelahan.

Aku tidak marah. Hanya menangis. Menangis dan berdoa. Semoga kelak kelelahan ini Allah ganti dengan kesalihan anak-anakku. Melihat mereka tumbuh menjadi anak salihah, sudah lebih dari cukup sebagai pelipur lara bagiku. 

Anak pertamaku menatap dalam, menahan tangis juga melihatku. Anak keduaku masih merengek, tapi aku tau hatinya sudah mulai melunak. Biasanya, dalam kondisi seperti itu aku sudah meledak, sebab merasa tidak dipahami dan merasa anak tidak mau patuh. 

Tapi ketika aku menangis dan berdoa, aku mohon pertolongan Allah untuk bisa menguasai diri dan emosiku, aku bertekad jika aku tidak bisa berkata baik, maka lebih baik aku diam. Setelah itu, aku simpan bayiku di atas kasur sambil berdoa semoga Allah jaga dan membuatnya nyaman.

Aku lalu diam, aku keluar kamar dan melanjutkan melipat baju. Anak pertamaku sigap menawarkan bantuan. Anak keduaku masih merengek. Setelah aku rasa sudah lebih siap, aku panggil anak keduaku sambil membuka tangan tanda ajakan pelukan. Masya Allah. Biasanya drama terus berlanjut, tapi kali ini ia datang, memelukku, dan berhenti rengekannya. Lalu dilanjutkan dengan melipat baju bersama dan merapikan mainan serta rumah. Lalu aku melipir ke dapur untuk memasak. Mereka pun makan dengan lahap.

Sementara aku? Sudah kehabisan waktu. Bayiku sudah bangun, dan aku mendekapnya lagi dengan gerakan hati-hati. Aku tidak bisa makan, tapi anak pertamaku menawarkan bantuan untuk mengambilkan makanan dan menyuapiku. Masya Allah, romantis sekali sore tadi.

Malam harinya sebelum tidur, anak pertamaku curhat bahwa ia masih takut. Seperti kemarin, takut kehilangan Mama, takut bumi hancur dan di bumi ini hanya ia sendiri, dlsb. Akhirnya kami mengulas emosi takut dan beberapa emosi lainnya dari buku Emosi Islami (alhamdulillah, baru saja dapat kiriman buku dari Teh Mega, love you Teh, hatur nuhun, sangat bermanfaat sekali).

***

Alhamdulillah. Hal-hal yang sudah baik hari ini adalah aku bisa meregulasi emosiku ketika biasanya dalam kondisi seperti itu aku akan meledak. Aku juga bisa berbicara dengan lebih tenang. 

Yang harus ditingkatkan adalah konsistensi. Semoga aku dapat terus menguasai diri dan emosiku sendiri, bukan sebaliknya. 

Insight yang aku dapatkan hari ini adalah ternyata anak-anak itu butuh curhat, sebagaimana kita butuh curhat. Jika sekiranya ibu tidak punya teman cerita, bagus sekali menjadikan anak sebagai teman tukar pikiran. Ini dapat melatih komunikasi dan empatinya

Alhamdulillah atas semua kebaikanNya yang menuntunku. Bismillah untuk hal-hal baik esok hari. 

#sinergiwujudkanaksi
#ibuprofesional
#IP4ID2024
#bunsayIIP
#bunsaybatch9
#institutibuprofesional
#komunikasiproduktif #zona2 #TantanganHarike2

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Vibrasi dan Prasangka Baik: Menjernihkan Konsep Energi dalam Pandangan Islam

Catatan Perjalanan Akar Ibu 2025 (Pos 1 - Pos 4)

Rasa yang Menghidupkan Sujud