Postingan

Menampilkan postingan dengan label Vbac

2VBAC Part 8 - Momen Penuh Keajaiban

Gambar
Cerita Sebelumnya: 2VBAC Part 7 - Menjelang Detik-Detik Persalinan B egitu telepon dari RS ditutup, bidan Amel dan bidan partner yang menemani langsung sigap mengambil posisi untuk menangkap bayi. Saat prosesnya, bayi agak sulit keluar. Bidan partner sempat khawatir ada lilitan tali pusat, tetapi aku menyampaikan bahwa dari pemeriksaan terakhir tidak ditemukan lilitan. Dorongan alami untuk mengejan mulai terasa semakin kuat, dan di setiap tarikan napas, bidan Amel selalu mengingatkan untuk mengucap basmalah. "Bismillahirrahmanirrahim," ucapku dengan penuh keyakinan, mengumpulkan tenaga yang tersisa. Saat itulah, bidan Amel memberi arahan dengan lembut tapi tegas. "Teh, kalau mau ngejan, jangan angkat pant*t, ya. Dorong ke bawah, lawan tangan aku." Aku berusaha mengikuti arahan itu. Selama ini sering mendengar anjuran 'jangan angkat pant*t saat melahirkan', tapi baru kali ini aku benar-benar merasakan perbedaannya—ternyata teknik ini memang membuat dorongan ...

2VBAC Part 7 - Menjelang Detik-Detik Persalinan

Cerita Sebelumnya: 2VBAC Part 6 - Menuju Persalinan Begitu mendengar bahwa sudah bukaan 6, aku merasa lega. Ini berarti tubuhku merespons dengan baik, dan bayiku semakin mendekati dunia. Setelah menunggu berjam-jam dengan rasa tidak menentu, akhirnya aku tahu bahwa aku semakin dekat dengan pertemuan yang aku nantikan. Aku terus berusaha rileks dan menerima setiap gelombang kontraksi dengan lebih pasrah. Rasanya luar biasa, seperti ombak yang datang berulang-ulang, tapi ada kebahagiaan di dalamnya. Aku tahu, setiap rasa sakit ini membawa bayiku lebih dekat ke pelukanku. Aku mencoba untuk tidak melawan, mengikuti alurnya, dan mempercayai bahwa tubuhku tahu apa yang harus dilakukan. Bidan Amel bilang, kalau ada rasa ingin mengejan boleh, tapi pelan-pelan. Aku mengangguk, mencoba fokus menikmati rasa kontraksi dan mengikuti insting tubuhku. Saat pembukaan 7, TUS! Ketuban pecah dan menyembur. Sensasi itu terasa aneh, hangat, dan lega sekaligus. Bidan Amel langsung mengecek, lalu berkata, ...

2VBAC Part 6 - Menuju Persalinan

Cerita Sebelumnya: 2VBAC Part 5 - Ikhtiar dan Doa di Ujung Kehamilan K ontraksi Semakin Kuat (2 Oktober 2024, Dini Hari) Semakin malam, kontraksi semakin intens. Jam 2 dini hari, aku mulai lelah dan ingin mengistirahatkan tubuh. Alhamdulillah, meskipun terbangun setiap beberapa menit sekali karena kontraksi, aku masih bisa tidur sejenak. Saat Subuh, kontraksi sudah terjadi setiap 3-4 menit sekali. Suami mengajakku pergi ke bidan Amel untuk cek pembukaan, tapi aku ingin menunggu lebih lama. Aku ingin shalat Subuh dulu. Shalat saat itu terasa sangat nikmat, meskipun aku harus menarik dan membuang napas dalam setiap kali kontraksi datang. *** Waktu menunjukkan pukul 5 pagi. Aku menghubungi bidan Amel dan mengabarkan bahwa kontraksi sudah 3 menit sekali dan mulai ada rasa ingin mengejan. Bidan Amel mempersilakan kami datang jika dorongan mengejan sudah tidak bisa ditahan. Aku masih mencoba bertahan hingga sekitar jam setengah 6, lalu meminta suami untuk menelepon Mama mertua agar datang ke...

2VBAC Part 5 - Ikhtiar dan Doa di Ujung Kehamilan

Cerita Sebelumnya: 2VBAC Part 4 - Di Ujung Kehamilan, Harap yang Tak Pernah Hilang 30 September 2024 Hari ini usia kehamilanku tepat 41 minggu. Sehari sebelumnya, aku meminta izin suami untuk mencoba akupuntur sebagai salah satu ikhtiar agar persalinan segera dimulai. Alhamdulillah, Teh Venny merekomendasikan terapis akupuntur di Rancaekek, yaitu Mbak Endah. Saat menjalani terapi, ternyata ditusuk jarum akupuntur itu tidak sakit. Hanya ada sedikit sensasi setruman di awal. Ada hal lucu yang terjadi! Biasanya, jika titik oksitosin dirangsang, tubuh akan merespons dengan kontraksi yang menjalar ke bawah perut. Tapi aku? Justru malah merasa mual. "Energinya malah balik lagi, Teh!" kata Mbak Endah. Kami pun jadi tertawa 😆 Ya, mungkin memang belum saatnya. Tapi tidak apa-apa, rasanya aku hanya ingin ikhtiar maksimal saja. Kalau pun sepulang akupuntur belum ada tanda-tanda kontraksi, insya Allah tidak ada penyesalan. Setidaknya, aku tahu aku sudah berusaha. 1 Oktober 2024 Hari ini...

2VBAC Part 4 - Di Ujung Kehamilan: Harap yang Tak Pernah Hilang

Gambar
Cerita Sebelumnya: 2VBAC Part 2 - Menunggu dengan Cinta, Cerita 40 Minggu Kehamilan 40 Minggu, 1 Hari Pertanyaan dari orang-orang mulai berdatangan, "Belum lahiran?" Kalau dulu, saat hamil pertama, aku mudah terbawa perasaan mendengar pertanyaan seperti itu. Pada kehamilan kedua, aku tidak sempat baper karena selalu menjawab HPL-ku adalah minggu ke-42. Namun, di kehamilan ketiga ini, aku tidak lagi baper. Justru aku menyadari bahwa pertanyaan mereka lahir dari kepedulian. Tapi peduli itu sering kali datang bersama kekhawatiran. Sepulang mengantar Hauna sekolah, aku merasa gelisah. Air mata jatuh begitu saja. Sedih, khawatir, dan tidak tenang. Bukan karena takut sakit saat melahirkan, tetapi lebih pada kekhawatiran tentang kondisi bayiku. "Apa bayiku baik-baik saja? Apakah plasentaku masih bisa memberikan nutrisi? Bagaimana jika kondisi air ketuban yang minggu lalu masih jernih kini sudah berubah? Bagaimana jika aku salah mengambil keputusan karena terus menunggu persa...

2VBAC Part 3 - Menunggu dengan Cinta: Cerita 40 Minggu Kehamilan

Gambar
Cerita Sebelumnya: 2VBAC Part 2 - Cerita Kehamilan Ketiga Foto pemandangan saat olahraga jalan kaki di sore hari. Masya Allah, walhamdulillah. Hari demi hari kehamilan ini dilalui dengan berbagai cerita: kebahagiaan, tantangan, kejutan, hingga keberkahan. Hingga sampailah kami di hari ini, usia kandungan 40 minggu 4 hari. Rasanya campur aduk sekali. Namun di sisi lain, alhamdulillah, Allah tidak pernah membiarkan aku kehilangan harapan. Pada kehamilan kali ini, entah mengapa aku tidak ingin melewatkan hari tanpa berharap pada-Nya, dalam hal apa pun. Seperti saat pemeriksaan kehamilan di usia 38 minggu, hasilnya sempat membuatku khawatir. Namun Allah tidak pernah mencabut harapan di hatiku. Hingga pada pemeriksaan usia kehamilan 39 minggu, bidan menyarankan mencari opsi kedua. Alhamdulillah, semua sangkaan buruk itu tidak terkonfirmasi. Plasenta dalam kondisi baik, air ketuban cukup dan jernih, berat badan janin diperkirakan 2,9 kg.  Masya Allah, alhamdulillah. Allah selalu Mahabaik...

2VBAC Part 2 - Perjalanan Kehamilan Ketiga

Gambar
Cerita Sebelumnya: 2VBAC Part 1 - Ketika Allah Titipkan Amanah Baru Kehamilan ketiga ini, aku baru memeriksakan kehamilan di usia kandungan 9 minggu. Sementara itu, pada usia 4-9 minggu awal, aku hanya mengonsumsi asam folat dan vitamin lainnya secara mandiri. Aku melakukan USG pertama kali di usia kandungan 11 minggu. Alhamdulillah, kondisiku dan janin dalam keadaan sehat. Hemoglobinku (HB) di trimester pertama juga 12,3, alhamdulillah aman. Namun, tantangan yang berbeda pada kehamilan ketiga ini adalah mual yang berlangsung cukup lama hingga pertengahan trimester kedua, disertai muntah yang cukup sering. Di usia kandungan 17 minggu, aku mengalami perdarahan. Bidan menyarankan untuk bedrest selama tiga hari dan melakukan USG ulang jika perdarahan berlanjut. Realitanya, dengan dua balita di rumah, sulit bagiku untuk benar-benar bedrest . Namun, alhamdulillah perdarahan hanya terjadi hari itu saja. Pada usia kandungan 20 minggu, aku kembali USG. Qadarallah, sama seperti dua kehamilan ...

2VBAC Part 1 - Yang Ketiga: Ketika Allah Titipkan Amanah Baru

Gambar
Beberapa bulan terakhir di tahun 2023 menjadi bulan-bulan kesedihan. Aku hanya bisa menyaksikan berita tentang Palestina dengan perasaan yang tak menentu. Rasa-rasanya usahaku untuk membantu tidak banyak berdampak, hanya setitik kecil di tengah lautan penderitaan mereka. Menyakitkan sekali setiap kali melihat tayangan anak-anak yang berguguran menjadi korban genosida. Sumber: INH Sempat terlintas di benakku sebuah harapan kecil. Jika mujahid-mujahidah di sana berguguran, insya Allah, Allah akan hadirkan generasi mujahid dan mujahidah baru di seluruh penjuru bumi. Ya Allah, jika Engkau ridha, perkenanlah aku untuk menjadi salah satu ibu yang melahirkan mereka, anak-anak yang kelak Engkau pilih untuk memperjuangkan agama-Mu. ---  Masih jelas dalam ingatanku, saat itu tanggal 18 Januari. Aku memutuskan untuk tespack karena merasa ada tanda-tanda yang berbeda. Namun, hasilnya negatif. Aku tidak terkejut karena sudah terbiasa. Memang hanya aku saja yang selalu resah setiap bulan, ingin ...