Tentang Abangku
Senin lalu, seluruh jama’ah di masjid menjadi saksi sebuah perjuangan.
Seorang laki-laki berjalan menuju masjid dengan tubuh yang kaku. Langkahnya tidak mudah. Dalam perjalanan ia tersungkur. Terluka. Namun ia bangkit lagi, lalu melanjutkan langkahnya sampai akhirnya tiba di masjid.
Perjalanan yang bagi kebanyakan orang hanya beberapa menit, baginya adalah perjuangan jatuh bangun. Ya, benar-benar terjatuh dan bangun lagi.
Laki-laki itu adalah Abangku.
Hampir dua belas tahun terakhir ia hidup dengan keterbatasan gerak. Tubuhnya kaku. Langkahnya tidak lagi leluasa seperti kebanyakan orang.
Tapi sampai hari ini pun kami tidak pernah benar-benar tahu apa nama sakitnya. Gejalanya menyerupai dystonia, kekakuan otot yang membuat tubuhnya kesulitan bergerak.
Namun setelah pengobatan bertahun-tahun yang tidak menunjukkan perkembangan, bagi kami, ia bukan lagi sedang “sakit”. Ia hanya menghadapi kehidupan baru dengan kondisi disabilitas. Bukan lagi untuk disembuhkan, tapi untuk diterima dan beradaptasi dengannya.
Dan Abangku melakukannya!
Meski dengan tubuh yang kaku, sehari-hari ia tetap berjalan ke masjid untuk shalat berjama’ah.
Bahkan di Ramadhan kali ini, ia mengerahkan seluruh usaha yang ia punya untuk memaksimalkan ibadahnya. Ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk shalat wajib berjama’ah di masjid, bahkan sejam sebelum subuh ia sudah berangkat ke masjid. 8 hari di awal Ramadhan tak ada satu kali pun ia absen untuk tidak tarawih di masjid, meskipun perjalanannya tentu tidak mudah.
Tiga hari terakhir, kondisinya mulai melemah. Ia mengalami demam dan nyeri perut, yang membuat ia harus beristirahat lebih banyak di rumah.
Pada tanggal 12 Ramadhan, sesaat sebelum adzan subuh, ia masih sempat berbicara seperti biasa dengan Mamaku. Ia ingin ke kamar mandi dan meminta bantuan Mama. Namun, karena adzan subuh sudah berkumandang, Mamaku memintanya untuk menunggu dulu, sebentar saja, lalu Mama bersegera menunaikan shalat Subuh.
Hanya beberapa menit saja.
Ketika Mama selesai shalat Subuh dan kembali menghampirinya, Abangku sudah tiada.
Ia pergi dengan begitu tenang.
Innalillaahi wa inna ilaihi raaji'uun...
Allah panggil ia pulang pada momen yang begitu sunyi, ketika kami hanya beranjak sebentar saja. Tanpa suara. Tanpa tanda. Tanpa ada siapa pun yang benar-benar menyadari saat detik itu terjadi. Seolah-olah Allah memang memilih momen yang sangat pribadi antara Dia dan hamba-Nya 🥲
Ya Allah, semoga ini menjadi pertanda bahwa Engkau memanggilnya dengan penuh kelembutan, "Yaa ayyatuhan nafsul mutma'innah, irji'i ilaa rabbiki raadhiyatam mardhiyyah, fadkhulii fiii ibaadii, wadkhulii jannatii..." 🥹
Bang, sekarang ragamu sudah tidak ada di sisi kami lagi. Tapi ketulusanmu, semangatmu, akan selalu hidup menjadi warisan paling berharga untuk kami. Terima kasih sudah berjuang ya, Abang...
Sampai bertemu lagi, Abangku... 🥹
Dengan cinta,
Adik yang katamu paling cantik karena adik yang lainnya laki-laki 🥲🤍
Komentar
Posting Komentar