Menulis: Hobi atau Kebutuhan?
Bismillahirrahmanirrahim.
Hai, hai, hai! Aku kembali.
Benar-benar ya, waktu cepat sekali berlalu. Sesuatu yang direncanakan "nanti dikerjakan saat luang", bisa jadi "tidak dikerjakan sama sekali", karena waktu luang hampir tidak ada.
Ternyata, ini bukan soal ada waktu luang atau tidak ada waktu luang, tapi soal prioritas. Selamanya, waktu luang itu tidak ada—karena ia selalu terisi dengan hal lain yang menurut kita lebih mendesak untuk dilakukan. Tapi bisa juga waktu luang itu selalu ada—jika kita benar-benar memprioritaskannya.
Bagaimana contohnya?
Seperti saat ini. Aku senang kegiatan menulis, tapi selama ini aku belum benar-benar memprioritaskannya. Tahu dari mana? Dari kenyataan bahwa menulis selalu kalah dari hal lain, entah itu bermain bersama anak, pekerjaan domestik, tugas di komunitas, pekerjaan part-time sebagai admin, bahkan juga kalah dari leha-leha saat beristirahat.
Apakah itu salah? Oh, tidak. Menulis bukan suatu kewajiban yang jika tidak dikerjakan akan berdosa, bukan? Ya, menulis memang hanya sebuah pilihan kegiatan menyenangkan yang boleh dilakukan jika kita membutuhkannya.
Ironisnya, tanpa sadar, kadang kita —aku lebih tepatnya- tidak peka pada kebutuhanku sendiri. Seringkali, aku lebih dulu memprioritaskan segala hal di luar diriku, daripada sekadar duduk sejenak untuk mendengar isi hatiku.
Kalau dipikir-pikir dengan jernih, menulis ini sebenarnya bukan hanya hobi, tapi kebutuhanku untuk mengalirkan segala rasa, pikiran, keresahan, kebahagiaan. Sebab cara paling nyaman bagiku untuk mengalirkan itu hanya dengan menulis. Bahkan mengalirkan rasa dengan berbicara dengan orang lain pun tidak bisa senyaman ketika menulis.
Jadi, apa yang harus dilakukan?
Bukan dengan menunggu waktu luang untuk menulis, tapi memprioritaskanya. Bukan karena kewajiban di KLIP, tapi karena aku sedang memenuhi kebutuhan diriku sendiri.
Aku harus selalu ingat, bahwa menulis bukan hanya tentang mengabadikan perjalanan hidup bersama anak-anak, atau berbagi manfaat dengan orang lain. Menulis juga tentang menjaga diriku tetap sehat—sebab dengan menulis, pikiran dan perasaanku bisa bernafas lega. Dan mungkin, di tengah hidup yang tak pernah berhenti berlari, menulis adalah caraku untuk sebentar saja berhenti, lalu pulang ke dalam diriku sendiri.
Komentar
Posting Komentar